Langsung ke konten utama
[Praktikum Bahan Bangunan Laut] Pekan ke-1 : Pemeriksaan Parameter Material Pembentuk Beton
Kami kelompok 2 yang terdiri dari saya Pring, Aldo, Naufal, Rianto, Alda, Nico, beserta teman-teman nim kecil Teknik Kelautan 2016 melakukan praktikum bahan bangunan laut.

Topik untuk praktikum bahan bangunan laut pekan pertama ini adalah pemeriksaan parameter-parameter material pembentuk beton. Dan ternyata bahwa pemeriksaan parameter- parameter ini sangat penting karena nantinya akan  dijadikan sebaga pedoman untuk merencanakan mix design. Untuk melaksanakan pemeriksaan parameter-parameter ini dibagi menjadi beberapa percobaan untuk memperoleh data-data yang akan dibutuhkan. Berikut merupakan rincian dari kegiatan praktikum yag kita lakukan. Selama praktikum kita dibantu oleh teknisi lab yang baik hati.
  1. Pemeriksaan Kadar Air Agregat
  • Tujuan :
Menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan
  • Alat dan Bahan:
Alat:
  • Timbangan dengan ketelitian 0,1 % dari berat contoh.
  • Oven yang suhunya dapat diatur sampai (110 ± 5)° C.
  • Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat pengeringan benda uji.
Benda Uji:
  • Berat minimum contoh agregat dengan diameter maksimum 5 mm adalah 0,5 kg.
  • Prosedur Percobaan:
  1. Timbang dan catat berat talam (W1)
  2. Masukkan benda uji ke dalam talam, dan kemudian berat talam + benda uji ditimbang. Catat beratnya (W2)
  3. Hitung berat benda uji W3 = W2 – W1
  4. Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven pada suhu (110 ± 5)° C hingga beratnya tetap
  5. Setelah kering, contoh ditimbang dan dicatat berat benda uji beserta talam (W4)
  6. Hitunglah berat benda uji kering: W5 = W4 – W1
  • Hasil Percobaan:
Tabel 1. Pemeriksaan Kadar Air Agregat

Observasi
Agregat Halus
Agregat Kasar
a. Berat wadah
160
146
b. Berat wadah + benda uji
2160
2146
c. Berat benda uji(B-A)
2000
2000
d. Berat benda uji
1890
1912
Kadar air
5,82
4,063
  • Analisis:
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa berat benda uji (agregat kasar dan agregat halus) setelah dikeringkan di dalam oven lebih ringan dibandingkan dengan berat benda uji sebelum dikeringkan. Hal tersebut dikarenakan sebelum benda uji dikeringkan, benda uji masih mengandung air yang menambah berat benda uji tersebut. Data pada tabel 1 juga menunjukkan bahwa persentase kadar air yang terkandung dalam agregat halus lebih besar dibandingkan dengan persentase kadar air yang terkandung dalam agregat kasar karena dalam berat yang sama, jumlah butiran agregat halus akan lebih banyak daripada jumlah butiran agregat kasar. Dalam agregat kasar, akan terdapat banyak rongga udara di antara partikel-partikelnya sedangkan dalam agregat halus, partikel-partikel agregatnya yang berukuran kecil akan saling mengisi ruang yang ada sehingga rongga udaranya kecil. Dengan begitu, luas permukaan agregat halus secara keseluruhan akan lebih besar dibandingkan dengan agregat kasar sehingga agregat halus dapat menampung air lebih banyak dibandingkan dengan agregat kasar. Selain itu, rongga yang kecil pada agregat halus akan membuat air yang terkandung sulit untuk keluar sedangkan pada agregat kasar, air akan dengan mudah keluar melalui rongga-rongga udara yang besar. Hal tersebut yang menyebabkan kadar air yang terkandung dalam agregat halus lebih banyak daripada kadar air dalam agregat kasar meski dalam kondisi telah dikeringkan.
  1. Pemeriksaan Berat Volume Agregat
  • Tujuan :
Menghitung berat volume agregat halus, kasar, atau campuran
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  • Timbangan dengan ketelitian 0,1 % berat contoh
  • Talam kapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat
  • Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat
  • Mistar perata
  • Sekop
  • Wadah baja yang cukup berbentuk silinder dengan alat pemegang sesuai dengan tabel berikut:
Tabel 2. Spesifikasi Wadah Baja yang Digunakan dalam Praktikum
Benda Uji:
  • Agregat halus dan agregat kasar

  • Prosedur Percobaan :
Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan tabel di atas. Keringkan dengan oven, suhu pada oven (110 ± 5)° C sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
1. Berat isi lepas
  • Timbang dan catatlah berat wadah
  • Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
  • Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
  • Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
  • Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 – W1)
  1. Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5’’) dengan cara penusukan
  • Timbang dan catat berat wadah (W1)
  • Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara merata
  • Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
  • Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
  • Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 – W1)
  1. Berat isi pada agregat ukuran butir antara 38,1 mm (1,5’’) sampai 101,1 mm (4”) dengan cara penggoyangan
  • Timbang dan catat berat wadah (W1)
  • Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal
  • Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut:
  • Letakkan wadah di atas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan
  • Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi
  • Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
  • Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
  • Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 – W1)
  • Hasil Percobaan
Tabel 3. Pemeriksaan Berat Volume Agregat Halus
Observasi I (Agregat Halus)

Padat
Gembur
A. Volume wadah
2,781
2,781
2,781
2,781
B. Berat wadah
2,676
2,676
2,676
2,676
C. Berat wadah + benda uji
6,66
6,76
6,18
6,16
D. Berat benda uji (C-B)
3,984
4,084
5,504
3,434
Berat volume D/A
1,433
1,469
1,26
1,253
Berat volume rata-rata
Kondisi Padat = 1,451
Kondisi Gembur = 1,2565

Tabel 4. Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar
Observasi I (Agregat Kasar)

Padat
Gembur
A. Volume wadah
2,781
2,781
2,781
2,781
B. Berat wadah
2,676
2,676
2,676
2,676
C. Berat wadah + benda uji
7,66
7,52
7,2
7,08
D. Berat benda uji (C-B)
4,984
4,844
4,524
4,404
Berat volume D/A
1,792
1,742
1,627
1,584
Berat volume rata-rata
Kondisi Pada = 1,767
Kondisi Gembur = 1,606

  • Analisis
Berdasarkan percobaan yang penulis lakukan, diperoleh data bahwa nilai berat volume agregat halus maupun kasar pada kondisi padat lebih besar dibandingkan dengan berat volume agregat pada kondisi gembur. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan perlakuan untuk memperoleh dua kondisi tersebut. Untuk memperoleh agregat dalam kondisi padat, dilakukan pemadatan dengan menumbuk setiap 1/3 lapisan agregat sebanyak 25 kali. Penumbukan tersebut akan menyebabkan pori-pori atau rongga udara yang terdapat pada agregat mengecil dan partikel-partikel agregat akan saling mengisi rongga-rongga tersebut. Hal tersebut menyebabkan jumlah agregat dalam wadah tersebut akan lebih banyak dan meningkatkan berat agregat dalam volume yang tetap. Dengan kata lain, berat volumenya akan meningkat.
Sementara pada kondisi gembur, tidak dilakukan pemadatan sehingga pori atau rongga udara yang ada antar partikel agregat akan lebih besar dan banyak jika dibandingkan dengan agregat pada kondisi padat. Hal tersebut menyebabkan jumlah partikel agregat akan lebih sedikit sehingga berat volumenya juga akan lebih kecil dibandingkan dengan berat volume pada kondisi padat.
Untuk Mix Desain, data yang penulis gunakan adalah berat volume agregat dalam kondisi padat karena saat di laboratorium, penulis melakukan pemadatan terhadap agregat yang akan digunakan untuk Mix Desain.
  1. Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
  • Tujuan :
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  • Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
  • Piknometer dengan kapasitas 500 gram
  • Cetakan kerucut pasir
  • Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir
Benda Uji:
  • Berat contoh agregat halus sebanyak 1000 gram. Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau perempatan
  • Prosedur Percobaan:
  1. Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
  2. Sebagian dari contoh dimasukan ke dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah sebanyak 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
  3. Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukan ke dalam piknometer. Kemudian, piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung – gelembung udara dengan menggoyang-goyangkan piknometer, redamlah piknometer dengan suhu air (73 ± 3) °F selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
  4. Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213±130) °F. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari).
  5. Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4 ± 3) °F dengan ketelitian 0,1 gram.
  • Hasil Percobaan:
Tabel 5. Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus
Observasi 1
A. Berat piknometer
170 gr
B. Berat contoh kondisi SSD
500 gr
C. Berat piknometer + air + contoh SSD
967 gr
D. Berat piknometer + air
670 gr
E. Berat contoh kering
483 gr
Apparent Specific Gravity
2,597
Bulk Specific Gravity Kondisi kering
2,379
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
2,463
Persentase absorpsi
3,52
Observasi 2
A. Berat piknometer
170 gr
B. Berat contoh kondisi SSD
500 gr
C. Berat piknometer + air + contoh SSD
965 gr
D. Berat piknometer + air
668 gr
E. Berat contoh kering
480 gr
Appacent Specific Gravity
2,623
Bulk Specific Gravity Kondisi kering
2,365
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
2,463
Persentase absorpsi
4,167
Rata-rata
Apparent Specific Gravity
2,61
Bulk Specific Gravity Kondisi kering
2,372
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
2,463
Persentase absorpsi
3,8435
  • Analisis :
Berdasarkan hasil percobaan, persentase absorpsi air dapat diperoleh dengan menghitung selisih berat benda uji dalam keadaan SSD dan keadaan kering yang kemudian dibandingkan terhadap berat benda uji dalam keadaan kering. Angka persentase absorpsi air ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman saat melakukan mix design. Semakin besar persentase absorpsi, semakin banyak air yang perlu untuk ditambahkan.
  1. Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
  • Tujuan :
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat kasar
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  • Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg
  • Keranjang besi diameter 203,2 mm (8”) dan tinggi 63,5 mm (2,5”)
  • Alat penggantung keranjang
  • Handuk atau kain pel
Benda Uji:
  • Berat contoh agregat disiapkan sebanyak 11 liter dalam keadaan kering muka (SSD = Surface Saturated Dry). Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau cara perempatan. Butiran agregat lulus saringan No. 4 tidak dapat digunakan sebagai benda uji.
  • Prosedur Percobaan:
  1. Benda uji direndam selama 24 jam
  2. Benda uji dikeringkan permukaannya (kondisi SSD) dengan menggunakan handuk pada butiran
  3. Timbang contoh. Hitung berat kondisi SSD = A
  4. Contoh benda uji dimasukan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4 ± 3) °F, dan kemudian ditimbang, setelah di keranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh =B
  5. Contoh dikeringkan pada temperatur (212 – 130) °F. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C
  • Hasil Percobaan :
Tabel 6. Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar
Observasi 1
A. Berat contoh kondisi SSD
2500 gr
B. Berat contoh dalam air
1514,5 gr
C. Berat contoh udara kering
2367 gr
Apparent Specific Gravity
2,77
Bulk Specific Gravity Kondisi kering
2,402
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
2,54
Persentase absorpsi
5,62
Observasi 2
A. Berat contoh kondisi SSD
2500 gr
B. Berat contoh dalam air
1485 gr
C. Berat contoh udara kering
1379 gr
Apparent Specific Gravity
2,661
Bulk Specific Gravity Kondisi kering
2,344
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
2,463
Persentase absorpsi
5,086
Rata-rata
Apparent Specific Gravity
2,72
Bulk Specific Gravity Kondisi kering
2,37
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
2,5
Persentase absorpsi
5,3525
  • Analisis :
Berdasarkan hasil percobaan, persentase absorpsi air dapat diperoleh dengan menghitung selisih berat benda uji dalam keadaan SSD dan keadaan kering yang kemudian dibandingkan terhadap berat benda uji dalam keadaan kering. Angka persentase absorpsi air ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman saat melakukan mix design. Semakin besar persentase absorpsi, semakin banyak air yang perlu untuk ditambahkan.
  1. Analisis Saringan Agregat Halus
  • Tujuan :
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus dengan uji saringan
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  •      Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2 % dari berat benda uji
  •      Satu set saringan dengan ukuran:
  •      Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk pemanasan sampai (110±5)°C
  •      Alat pemisah contoh (sampel spliter)
  •      Mesin penggetar saringan
  •      Talam – talam
  •      Kuas, sikat kawat, sendok, dan alat-alat lainnya
Benda Uji:
  • Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan.
  • Prosedur percobaan :
  1. Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan oada temperatur (110±5)°C, kemudian dinginkan pada temperature ruangan
  2. Timbang kembali berat sampel agregat yang digunakan
  3. Persiapkan saringan yang akan digunakan
  4. Setelah saringan disusun, letakkan sampel agregat diatas saringan
  5. Goyangkan saringan dengan tangan/mesin
  6. Hitung berat agregat pada masing-masing nomer saringan
  7. Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0,3% dari berat semula sampel agrerat yang digunakan, hasilnya tidak dapat digunakan.
  • Hasil Percobaan:
Tabel 7. Analisis Saringan Agregat Halus
Ukuran saringan
Berat tertahan
Persentase tertahan
persentase tertahan kumulatif
Persentase lolos kumulatif
SPEC ASTM C33-90
9,5
0
0
0
100
100
4,75
0
0
0
100
95-100
2,36
66
13,279
13,279
86,721
80-100
1,18
97
19,517
32,796
67,204
50-85
0,6
99
19,92
52,716
47,284
25-60
0,3
79
15,895
68,611
31,389
 10-30
0,15
96
19,316
87,927
12,073
 2-10
0,075
43
8,652
96,579
3,421

PAN
17
3,421
100
0

Modulus kehalusan = 3,52
  • Analisis :
Dari percobaan yang penulis lakukan, didapatkan data kurva gradasi agregat halus seperti yang tertera di atas. Grafik tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar data ukuran partikel agregat halus masih berada di antara batas maksimum dan minimum yang telah ditentukan. Oleh karena itu, agregat halus layak digunakan dalam pencampuran beton.
  1. Analisis Saringan Agregat Kasar
  • Tujuan :
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat kasar dengan uji saringan
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  • Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2 % dari berat benda uji
  • Satu set saringan dengan ukuran:
  • Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk pemanasan sampai (110±5)°C
  • Alat pemisah contoh (sampel spliter)
  • Mesin penggetar saringan
  • Talam – talam
  • Kuas, sikat kawat, sendok, dan alat-alat lainnya
Benda Uji:
  • Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan.
  • Prosedur Percobaan:
  1. Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan oada temperatur (110±5)°C, kemudian dinginkan pada temperature ruangan
  2. Timbang kembali berat sampel agregat yang digunakan
  3. Persiapkan saringan yang akan digunakan
  4. Setelah saringan disusun, letakkan sampel agregat diatas saringan
  5. Goyangkan saringan dengan tangan/mesin
  6. Hitung berat agregat pada masing-masing nomer saringan. Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0,3% dari berat semula sampel agrerat yang digunakan, hasilnya tidak dapat digunakan.
  • Hasil Percobaan :
Tabel 8. Analisis Saringan Agregat Kasar
Ukuran saringan
Berat tertahan
persentase tertahan kumulatif
Persentase lolos kumulatif
SPEC ASTM C33-90
25
0
0
100
100
19
515
20,63
79,37
90-100
9,5
1725
89,74
10,26
20-55
4,75
250
99,76
0,24
0-10
2,38
6
100
0
0-5
Modulus kehalusan = 1,8987
  • Analisis :
Grafik di atas menunjukkan bahwa sebagian besar data kurva lolos kumulatif agregat kasar berada di luar batas kurva maksimum dan minimum yang telah ditentukan. Oleh karena itu, agregat kasar tersebut seharusnya tidak layak digunakan dalam pencampuran beton karena gradasinya yang kurang baik. Kondisi tidak ideal tersebut terjadi karena beberapa faktor diantaranya karena kondisi agregat yang disediakan oleh laboratorium memang kurang baik.
  1. Pemeriksaan Zat Organik dalam Agregat Halus
  • Tujuan :
Mengetahui kadar organik yang terkandung dalam agregat halus
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  • Botol gelas tembus pandang dengan penutup karet atau gabus atau bahan penutup lainnya yang tidak bereaksi terhadap NaOH. Volume gelas = 350 ml
  • Standar warna (organic plate)
  • Larutan NaOH
Benda Uji:
  • Contoh pasir dengan volume 115 ml (1/3 volume botol)
  • Prosedur Percobaan:
  1. Masukkan 115 ml pasir ke dalam botol tembus pandang (kurang lebih 1/3 isi botol)
  2. Tambahkan larutan NaOH 3%. Setelah di kocok, isinya harus mencapai kira-kira ¾ volume botol
  3. Tutup botol gelas tersebut dan kocok hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak terpisah dan biarkan selama 24 jam agar lumpur tersebut mengendap
  4. Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan yang terlihat dengan standar warna No. 3 pada organik plate (bandingkan apakah lebih tua atau lebih muda).
  • Hasil Percobaan :
Setelah 24 jam, air endapan berubah warna dan cenderung sesuai dengan indikator No.3 pada indikator plate.
  • Analisis :
Berdasarkan hasil percobaan, warna air endapan pasir sesuai dengan standar warna yang telah ditentukan yaitu indikator No. 3 pada organic plate pasir atau agregat halus layak dipakai untuk Mix Design.
  1. Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus
  • Tujuan :
Menentukan besarnya (persentase) kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai campuran beton.
  • Alat dan Bahan :
Alat:
  • Gelas ukur
  • Pengaduk
Benda Uji:
  • Contoh pasir secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa
  • Prosedur Percobaan:
  1. Contoh benda uji dimasukkan ke dalam gelas ukur
  2. Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur
  3. Gelas dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur
  4. Simpan gelas pada tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
  5. Ukur tinggi pasir (V1) dan tinggi lumpur (V2)
  • Hasil Percobaan :
  • Vpasir = 168 ml
  • Vtotal = 172 ml
  • Vlumpur = 4 ml
  • Persentase kadar lumpur (%) = 2,3255%
  • Analisis :
Berdasarkan hasil percobaan, persentase kadar lumpur yang terkandung dalam agregat halus adalah 2,3255%. Angka tersebut menunjukkan bahwa agregat halus layak digunakan untuk pembuatan beton karena masih dibawah batas toleransi yaitu 5%.

Itulah kegiatan yang kita lakukan di laboratorium serta hasil-hasil yang kita dapatkan selama praktikum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JENIS OFFSHORE PLATFORM BERDASARKAN KONSTRUKSINYA] Struktur terpancang pada dasar laut (Fixed Platform) Pada konstruksi terpancang, beban vertikal, horizontal dan moment dapat ditransformasikan oleh konstruksi kaki melalui pondasi ke dasar laut Contoh : jacket steel platform, gravity platform, monopod, tripod, dll Struktur terapung (Floating Platform) CONTOH : semi-submersible, jack-up platform, drilling ship, barge, dll Gerakan struktur diatas air relatif lebih besar (kecuali Jack-up) dibanding Fixed Plat. Kaki-kaki Jack-up tidak terpancang permanen di dasar laut tapi dapat naik-turun. Struktur terapung dilengkapi fasilitas penambatan (MOORING), dengan sistem: 1. Catenary Mooring – (jangkar, rantai atau wire ropes) – (jumlah mooring line antara 4 ~ 24 buah) – (karakteritik dipengaruhi beban statis dan dinamis) 2. Dynamic Positioning (motion response control, thruster) (Untuk laut dalam dan lokasi kerja rawan) FUNGSI :   – Anjungan Pengeboran (dr...
[ANALISIS MATERIAL KONSTRUKSI LABTEK VI ITB] Labtek VI adalah salah satu gedung yang berada di tengah ITB. Gedung tersebut adalah gedung tempat mahasiswa teknik kelatuan belajar. Saya mencoba menganalisa material-material penyusun keempat gedung tersebut Labtek VI Dilihat dari bangunannya, menurut saya gedung ini tersusun dari  60% beton bertulang, 25% bata, dan 15% baja ringan. Berikut saya paparkan mengenai cara pembuatan dari material-material tersebut, yaitu bata dan baja ringan. 1. Baja Ringan Secara umum cuma dikenal pembentukan baja dengan metode  hot rolled  atau diistilahkan  canai panas.   Di dalam proses ini biasanya balok baja dipanaskan dalam suhu tinggi kemudian melalui serangkaian rol baja akan dibentuk menjadi sesuai keinginan, misalnya baja profil IWF, H-Beam, dll. Untuk baja tipis atau baja ringan, proses yang dikenakan dikenal den...
[JENIS-JENIS BETON] Dalam  konstruksi ,  beton  adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen Portland, yang terdiri dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air. Ada bermacam-macam jenis beton antara lain : 1. Beton siklop Beton jenis ini sama dengan beton normal biasa , perbedaannya ialah pada beton ini digunakan ukuran agregat yang relative besar2.beton ini digunakan pada pembuatan bendungan, pangkal jembatan,dan sebagainnya.ukuran agregat kasar dapat sampai 20 cm,namun proporsi agregat yang lebih besar dari biasanya ini sebaiknya tidak lebih dari 20 persen dari agregat seluruhnya. 2. Beton Ringan Beton jenis ini sama dengan beton biasa perbedaannya hanya agregat kasarnya diganti dengan agregat ringan. Selain itu dapat pula dengan beton biasa yang diberi bahan tambah yang mampu membentuk gelembung udara waktu pengadukanbeton berlangsung.bet...